Praktek Tanam System of Rice Intensification (SRI)

0
233

Sistematika proses belajar yang diawali dari identifikasi masalah-masalah usahatani yang telah dilakukan, dilanjutkan dengan menganalisa penyebab terjadinya masalah sehingga muncul beberapa alternatif sebagai upaya pemecahan masalah, diantaranya : mempelajari konsep pengelolaan agro ekosistem di lahan sawah yang menitik beratkan kepada  produktivitas dan keberpihakan kepada alam, dimana nilai keberlanjutan tidak bisa ditinggalkan dan tetap menjadi topik atau prinsip yang harus dikuatkan, sehingga nilai ekologis menjadi dampingan dalam melakukan SRI.

SRI merupakan metoda tanam yang dengan management perakaran dengan berbasis pada pengelolaan tanah, tanaman dan air, sehingga komponen tersebut menjadi unsur yang esensial dalam  setiap langkah kegiatan sistem ini. Sebagai peserta yang pemula dalam melaksanakan tanam SRI  hendaknya mempraktekan terlebih dahulu pada saat pembelajaran untuk menghindari kemungkinan yang dapat merugikan berusahatani apalagi model baru seperti SRI, karena perbedaan dalam segala unit kegiatan sangat berbeda dengan konsep non SRI atau konvensional.

Praktek tanam SRI dilakukan pada lahan sawah yang dilakukan langsung oleh peserta pembelajaran, Prinsip tanam SRI tunggal, dangkal, perakaran yang membentuk hurup L horizontal dan tidak tergenang menjadi perhatian para peserta pada saat praktek tanam, sehingga ketika peserta akan melaksanakan tanam SRI dilahannya tidak dibebani dengan keraguan dan kecemasan.

Alasan mengapa SRI ditanam satu : bahwa dengan tanam satu maka kita memberikan kesempatan kepada benih untuk menumbuhkan tunas lebih banyak, memberi keleluasaan bergerak, menghindari kompetitif dari nutrisi dan energi matahari yang diperlukan,  sedangkan ditanam dangkal agar nutrisi yang berada di lapisan atas mudah diambil tanaman, menghindari terbetuknya ruas-ruas/buku-buku di pangkal bagian bawah perakaran yang berpengaruh terhadap produktivitas. Sedangkan, mengapa perlu membentuk hurup L pada saat ditanamkan, hal ini berhubungan dengan kecepatan tumbuhnya akar di lahan agar tidak banyak energi yang terbuang, karena pada saat tanam membetuk hurup U atau kail tanaman membutuhkan energi yang banyak untuk meluruskan akar yang melengkung, sedangkan kondisi tanaman masih bayi.

Sedangkan bila tergenang sejak kecil tanaman akan terpengaruh pada jaringan akarnya rusak dan mati, sehingga fungsinya terhambat.

PRINSIP DASAR SRI ORGANIK

NO PRINSIP ALASAN
1 Menggunakan BO

7-10 ton/Ha

–   Memperbaiki tekstur dan struktur tanah

–   Mendukung tumbuh aktivitasnya biota-biota tanah

–   Tersedianya nutrisi bagi tanaman

–   Menyelenggarakan ekologi yang sehat dan hasil padi sehat sehingga ekosistem kuat

2 Uji benih bernas –   Daya tumbuh tinggi

–   Tahan hama penyakit

3 Benih muda umur

7-12 hari

–   Memberi peluang pada tanaman padi untuk mengembangkan hidupnya

–   Untuk mendukung tumbuhnya tanaman di lahan (agar langsung tumbuh)

–   Untuk mengantisipasi tidak terjadi ditanam dalam (bagi penanam baru)

–   Mengantisipasi kerusakan akar

4 Tanam tunggal

1 pohon

–   Hemat bibit (efisiensi)

–   Agar tidak terjadi persaingan/perebutan unsur hara dan sinar matahari dan aktivitas pembakaran

–   Agar akar tidak membentuk ruas-ruas yang tidak diharapkan (ruas panjang) dan agar akar tidak hancur

–   Potensi anakan lebih banyak

5 Ditanam dangkal

0.5 – 1 cm

–   Pengelolaan akar dan tumbuhnya lebih cepat

–   Akar tidak beruas panjang

–   Merangsang tumbuh dan mempercepat anakan lebih banyak

–   Aerasi tanah mendukung pertumbuhan akar

–   Nutrisi yang tersedia bagi tanaman lebih banyak

–   Tidak mudah rebah

6 Ditanam hurup L –   Efisiensi cadangan makanan

–   Merangsang dan mempercepat keluar ruas, akar dan anakan

–   Akar lebih besar, putih dan sehat

7 Jarak tanam lebar

30 x 30 cm

35 x 35 cm

40 x 40 cm

 

–   terhindar dari persaingan unsur hara (nutrisi), sumber energi dan aktivitas perakaran

–   Terhindar dari serangan hama dan penyakit

–   Terhindar dari rangsangan keasaman tanah

–   Memudahkan penyiangan

–   Merangsang anakan lebih banyak

–   Mendorong tumbuhnya malai produktif

8 Tidak digenang air –   Pengelolaan tanah (biota-biota) agar tetap aktivitasnya tinggi

–   Terhindar dari kerusakan jaringan akar (komplek, xylem, phloem dan cortek)

–   Sumber energi lebih cepat masuk ke tanah

–   Menghindari tumbuh dan berkembangnya hama

9 – Penyiangan 2-4x

10 hari

20 hari

30 hari

40 hari

– Penyemprotan MOL

–   Menghindari tumbuhnya tanaman yang tidak dibudidayakan

–   Membantu tersedianya oksigen (udara) di zona perakaran padi

–   Mempertahankan struktur tanah tetap stabil

–   Menambah aktivitas bakteri

10 Tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintetis –   Memperbaiki kondisi ekosistem dan ekologi serta kualitas pangan

–   Menuju kemandirian petani

–   Mengarah dan menggali kearifan lokal dan potensi

Sumber AOSC

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon tulis komentar anda
Mohon tulis nama anda disini