Budidaya Tanaman Padi Sri Organik

0
424

SRI (System of Rice Intensification) adalah cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses management sistem perakaran dengan berbasis pada pengelolaan: Tanah, Tanaman dan Air. Informasi tentang SRI diterima dari penggagas SRI ( Henri de Laulanie, SJ) di Madagascar melalui FAO-IPM, sebagai bahan kajian dalam rangka meningkatkan kualitas sains petani. Cara tanam ini pertama ditanaman di Indonesia sekitar tahun 2000

 Persemaian

Untuk SRI dapat disemai pada tanah darat/kering, pasir kali yang halus atau tanah yang dicampur arang sekam yang telah dicampur kompos (bahan organik yang sudah jadi melalui permentasi) dengan perbandingan 3:1 sebagai media tumbuh dan dapat di tempatkan pada pipiti (Besek), kotak,  nampan plastik, atau pada lahan yang didasari alas plastik hal ini untuk memelihara ,menjaga perakaran tumbuh lebih sehat dan tidak putus saat dipindah   selain  memudahkan pengamatan. Kebutuhan benih per Ha 5 Kg dengan jarak tanam 30×30 Cm, namun jika jarak tanan lebih lebar bisa lebih irit lagi.

 Cara Tanam

Benih ditanam pada umur 7-12 hari dari tumbuh kecambah di persemaian. Jumlah bibit perlubang  satu tunas (tanam tunggal),  hal ini mendukung potensi tumbuhnya tanaman selain terhindar dari persaingan nutrisi, oksigen dan sinar matahari. Bibit ditanam dangkal dan perakaran horizontal seperti hurup L, hal ini dilakukan jika akar ditekuk ke atas maka bibit memerlukan energi besar dalam memulai pertumbuhan kembali, ditanam horizontal juga akan mempercepat terbentuknya ruas sebagai media tumbuhnya akar baru yang mendorong lebih cepat tumbuhnya anakan.

 Jarak Tanam

Berdasarkan pengalaman dalam mengembangkan  SRI, jarak tanam yang lebih baik lebar, antara  30 x 30 cm, jika tanahnya sudah lebih baik (gembur dan subur) dapat ditanam 35 x 35 Cm atau lebih. Dengan jarak tanam lebar dapat meningkatkan jumlah anakan produktif, karena persaingan oksigen, energi matahari dan nutrisi semakin berkurang.

 Pemupukan

Pupuk yang digunakan adalah pupuk kompos, berasal dari bahan organik seperti  kotoran hewan, hijauan, limbah organik (sisa tanaman dan limbah lainnya). Bahan-bahan tersebut  dikomposkan untuk memperkaya kandungan nutrisi yang dibutuhkan tanaman, untuk membantu mempercepat penghancuran bahan organik oleh mikro organisme (Dekomposisi) sebaiknya ditambahkan dengan   Micro Organisme Lokal (MOL) yang terbuat dari bahan nasi, fermentasi urine dicampur dengan tebu atau gula merah, limbah buah-buahan, permentasi rebung bambu yang dicampur  dengan air beras, air kelapa yang dicampur gula merah, tebu atau lahang/nira dan dibiarkan selama 15 hari untuk fermentasi.

Kebutuhan pupuk organik berupa kompos adalah 7 – 10 ton per Ha setelah sebelumnya jerami  yang ada di lahan dikembalikan ke dalam tanah.

 Pengelolaan Air Dan Penyiangan

Sejak padi ditanam/vegetatif keadaan lahan dalam kondisi lembab (air kapasitas lapang), penyiangan pertama dilakukan umur 7-10 hari setelah tanam dan sebaiknya lahan digenangi 2 – 3 cm kurang lebih selama satu malam untuk memudahkan penyiangan. Selanjutnya penyiangan dilakukan selang waktu setiap 10 hari sekali sampai sebanyak minimal 3 kali penyiangan, sehingga keadaan oksigen dalam tanah tetap tersedia dan terjaga selain kondisi tumbuhnya gulma dapat ditekan.

Pada saat anakan maksimum kurang  lebih umur tanaman 45 – 50  hari setelah tanam sebaiknya lahan dalam kondisi kering selama 7-10 hari, hingga tanah retak , Hal ini dimaksudkan untuk menghambat/ pertumbuhan vegetatif atau menghentikan anakan selain menghemat  cadangan nutrisi untuk tidak digunakan dalam pertumbuhan tunas yang tidak produktif dan agar tanaman tidak terlalu tinggi.  setelah sepuluh hari dikeringkan, kondisi lahan kembali macak – macak atau lembab selama masa pertumbuhan malai, bulir, pengisian bulir hingga bernas, selanjutnya air dikeringkan 10 hari menjelang  dipanen.

 Penggunaan MOL (Mikro Organisme Lokal)

Untuk menambah nutrisi dan memperkaya aktivitas mikrobiologi pada  tanaman maka diberi perlakuan MOL berupa cairan yang sudah dipermentasi lebih dulu dan dikembangkan oleh para petani, bahan-bahan MOL berasal dari bahan-bahan Urine sapi, rebung bambu, buah-buahan, bonggol pisang, daun gamal (kiria), buah Maja (bernuk/labu kayu) atau limbah dapur, kemudian ditambahkan air cucian beras dan air kelapa yang ditambah pemanis secukupnya (gula merah / gula putih / tebu / tetes tebu/ air nira / lahang ) pada saat permentasi selama kurang lebih 15 hari. Waktu penggunaan MOL diberikan pada saat setiap setelah penyiangan ke 1 sampai dengan ke 4, lebih sering sering lebih baik, sampai pase primordia dan terakhir pada saat pengisian bulir, sebaiknya penggunaannya diberikan pada sore hari atau pagi hari sebelum panas sinar matahari.

 Pengendalian Hama

SRI organik adalah cara pengelolaan agroekosistem padi sawah secara utuh/ holistik yang diperuntukan menjaga kestabilan ekologi tanah, ekologi tanaman dan ekologi serangga berjalan secara alamiah termasuk melindungi tanaman dari berbagai gangguan termasuk dari serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa Hama/penyakit, Pengendalian yang dilakukan secara utuh dengan berprinsip pada :

  1. Budidaya tanaman sehat,
  2. Pendayagunaan fungsi musuh alami,
  3. Pengamatan berkala dan
  4. Petani ahli

Jika terjadi goncangan di ekosistem yakni populasi serangga ekstrim (Hama/penyakit)  yang akan merusak dan merugikan , dilakukan pengendalian baik secara fisik/mekanik atau pengendalian dengan penggunaan bahan-bahan pestisida nabati yang diambil dari bahan tanaman yaitu diantaranya tanaman gadung, dlingo, tembakau, daun mimba, daun mindi, daun suren, botrowali, babadotan, kirinyuh dan lain-lain).

 Produksi

Berdasarkan beberapa pengalaman dilahan para petani SRI di beberapa propinsi di Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa timur, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, produksi padi SRI organik adalah antara 6,8 ton/ha hingga 10,2 ton/ha GKP (Gabah Kering Panen), bahkan di beberapa tempat ada yang mencapai 12 – 14 ton per ha GKP.

Tantangan pengembangan budidaya padi SRI organik

 Terbatasnya ketersediaan bahan kompos  terutama yang bersumber dari kotoran hewan

  1. Distribusi  bahan organik/kompos pada skala luas memerlukan biaya tinggi.
  2. Kebiasaan membuang dan membakar jerami di sebagian besar petani telah  menjadi budaya
  3. Jumlah petugas/petani yang memahami teknis metoda SRI masih sangat terbatas
  4. Pengembangan SRI organik memerlukan Proses pembelajaran dan pendampingan  intensif dan berkesinambungan.
  5. Pemasaran beras organik belum terjalin dan terorganisir.

 

 Peluang Pengembangan SRI Organik

 1. Pangan

SRI telah terbukti  dapat memperbaiki tatanan budidaya tanaman padi lebih baik sehingga potensi tanaman dapat diketahui  dan produksi padi dapat ditingkatkan, terlebih SRI organik dapat menghasilkan beras yang sehat,  dengan berbagai kelebihannya, peluang besar untuk meningkatkan  produktivitas padi yang sehat, aman dan penuh berbagai kelebihan.

2. Energi

Energi Matahari yang dimamfaatkan tanaman lebih produktif dan efisien, proses potosintesa yang dihasilkan tanaman  prosentasinya lebih banyak menghasilkan bulir yang banyak dan bernas selain energi dari bahan organik (kompos dan MOL) yang semula tidak bermamfaat dengan SRI organik menjadi energi yang terbarukan dan dapat meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah sekaligus mendorong pertumbuhan tanaman untuk menghasilkan lebih baik.

3. Budaya

Tumbuhnya minat memanfaatkan potensi lokal sekaligus akan mendorong kearifan lokal yang akan mempengaruhi kehidupan sosial lebih mandiri, mendorong peningkatan  perekonomian di tingkat basis serta akan mengurangi nilai ketergantungan kepada fihak-fihak tertentu.

4. Pekerjaan

Peluang SRI organik telah nyata dibeberapa daerah dapat melibatkan para petani pada penggunaan/pemakaian bahan organik yang dibuat kompos dan mol sehingga mereka mampu menyediakan  sarananya sendiri, hal ini jika perluasan SRI organik terus dipicu dan dikembangkan menjadi peluang untuk mendapatkan berbagai pekerjaan di tingkat desa atau lingkungan basis pertanian.

5. Lingkungan

Lingkungan yang merupakan tempat hidup manusia sering menjadi tidak nyaman karena prilaku manusianya, namun dengan berkembangnya SRI organik yang erat kaitannya dengan bahan-bahan yang sering menjadi masalah kebersihan  yakni sampah terutama sampah organik, akan segera dapat diselesaikan masalahnya  karena semua bahan tersebut dapat dimamfaatkan sebagai bahan kompos dan MOL. Kondisi lingkungan  lokal sebagai basis pertanian  SRI organik akan sangat mempengaruhi lingkungan lainnya sehingga akan menciptakan iklim yang  lebih baik bagi hidup dan kehidupan masa yang akan datang.

Dampak Pengembangan SRI Organik

Berikut  Dampak yang terjadi di beberapa kelompok tani yang telah berhasil mewujudkan SRI organic dan mengembangkannya :

  • Nilai keswadayaan petani tumbuh dan berkembang
  • Membangkitkan semangat berusaha tani
  • Menumbuhkan kearifan lokal
  • Adanya pemanfaatan potensi lokal
  • Adanya pengembangan usahatani
  • Agroekosistem sehat dan kelestariannya lebih terjaga
  • Efisiensi air
  • PHT dilakukan lebih nyata
  • Produk yang dihasilkan berdayasaing tinggi dan sehat

Perjalanan penerapan SRI organik selama 14 tahun baik teknis maupun pengembangan telah menjadi batu pengalaman, namun demikian belumlah merupakan sebuah kesimpulan bahkan yang terjadi  mengundang banyak pertanyaan,  kami berharap semoga dapat menjadi bahan pembelajaran dan bermanfaat bagi lebih banyak kehidupan.

Seleksi Benih

Sebelum persemaian dilakukan terlebih dahulu melakukan seleksi benih bernas dengan larutan air garam yang pekat. Kepekatan larutan air garam indikatornya adalah dengan memasukkan telur mentah, bila telur masih tenggelam ditambah lagi garam, sampai telur mengambang. Gabah yang dipilih dimasukkan ke dalam larutan air garam, gabah yang tenggelam dipakai untuk benih, sedangkan gabah yang terapung dibuang (tidak digunakan).

Dari uji coba yang telah dilakukan ternyata benih dari toko yang berlabel, sekitar 15 – 40% tidak terpakai.

Dalam uji ini bukan berarti uji daya kecambah, tapi biasanya benih yang bernas punya daya kecambah yang baik (normal).

Persemaian

Benih padi yang akan disemai, setelah terlebih dahulu dilakukan uji bernas dengan larutan air garam setelah dibilas dapat langsung disemai akan tetapi akan lebih baik bila direndam 24 jam kemudian diperam  selama  24 jam, atau sampai keluar kecambah, hal ini dapat melakukan seleksi akhir karena benih yang baik akan tumbuh normal sedangkan yang kurang baik akan kelihatan pertumbuhannya terlambat, untuk yang ini sebaiknya ditinggalkan.

Persemaian SRI dilakukan dengan cara kering/lembab sehingga dapat dilakukan  pada pipiti (besek) atau  kotak, hal ini memudahkan untuk melakukan pengamatan yang terus-menerus. Kebutuhan besek  untuk persemaian berukuran 15×15 Cm sebanyak 60-70 buah per 100 bata/tumbak (0,14 Ha) atau 420-490 buah per Ha, dan persemaian dapat disimpan di halaman  rumah. Kebutuhan benih per  100 bata sekitar 0,7 – 1 kg atau 4,9 – 7 kg per Ha. Tiap besek  sekitar 1 (satu) sendok makan.

Tanah darat atau pasir kali  sebagai media tumbuh benih, dicampur dengan pupuk organik/kompos dengan perbandingan 3 : 1,  dimasukkan kedalam  besek yang dilapisi daun pada dasarnya, sampai penuh setinggi besek. Taburkan benih sebanyak satu sendok makan dan tutup dengan abu dan jerami. Penyiraman dilakukan satu sampai dua kali sehari. Pada waktu menabur benih diusahakan agar tidak terjadi tumpang tindih. Pada usia 3 – 5 hari jerami diangkat karena benih sudah mulai tumbuh. Bibit siap tanam pada usia 5 – 10 hari, umumnya petani tanam pada usia semai 7-12 hari. Untuk areal yang cakupannya luas dengan perlakukan yang sama dilakukan pada tanah kering disekitar sawah atau dipekarangan dengan terlebih dahulu dipakai alas plastik, pada usia ini panjang tanaman sekitar 7 cm, yang perlu diperhatikan pada saat akan ditanam bulir padi harus terbawa (tidak lepas) dan dilakukan sesegera mungkin ( < 15 menit).

TINGGALKAN KOMENTAR

Mohon tulis komentar anda
Mohon tulis nama anda disini